Selasa, 21 Mei 2013
Resensi LAYAR TERKEMBANG
Judul : Layar Terkembang
Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana (STA)
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 2010 (ke-41). (cetakan pertama,1937)
Tebal : 208 halaman
1. Identitas Buku
Judul : Layar TerkembangPengarang : Sutan Takdir Alisjahbana (STA)
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 2010 (ke-41). (cetakan pertama,1937)
Tebal : 208 halaman
2.
Ringkasan
isi buku
Tuti adalah putri sulung
Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan
aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius
dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis
yang lincah dan periang.
Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura, Sumatra Selatan.
Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selalu teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.
Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.
Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sesungguhpun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.
Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginannya untuk menjalin cinta dengannya. Sesungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya.
Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
ejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria menghembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain”. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi
Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura, Sumatra Selatan.
Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selalu teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.
Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.
Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sesungguhpun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.
Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginannya untuk menjalin cinta dengannya. Sesungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya.
Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat. Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
ejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria menghembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain”. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi
3. Unsur
Instrinsik
a)
Tema : Perjuangan wanita Indonesia
b)
Latar / Setting :
Tempat :
• Gedung akuarium di pasar ikan
• Rumah Wiriaatmaja,
• Mertapura di Kalimantan Selatan,
• Rumah Sakit di Pacet,
• Rumah Partadiharja,
• Gedung Permufakatan
• Gedung akuarium di pasar ikan
• Rumah Wiriaatmaja,
• Mertapura di Kalimantan Selatan,
• Rumah Sakit di Pacet,
• Rumah Partadiharja,
• Gedung Permufakatan
c)
Alur : Maju
• Perkenalan :
• Perkenalan :
Saat di gedung
akurium Yusuf bertemu dengan Maria dan Tuti. Pertemuan itu memberi kesan
istimewa pada Yusuf. Hingga akhirnya, Yusuf selalu merasa ingin bertemu dengan
Maria. Dari pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Maria danTuti, Yusuf mulai
jatuh cinta kepada Maria. Ternyata perasaan Yusuf dibalas pula oleh Maria.
Mereka berdua hingga akhirnya merajut suatu ikatan khusus yang semakin lama
semakin mendalam. Pada akhirnya, Yusuf dan Maria bertunangan.
• Konflik :
Maria dan Tuti
bertengkar hebat. Pertengkaran itu disebabkan oleh kritikan pedas Tuti terhadap
Maria. Tuti mengkritik bahwa cinta Maria kepada Yusuf sangat berlebihan dan
dapat melemahkan diri Maria sendiri. Tetapi Maria yang hatinya saat itu sedang
marah, Ia membalas kritikan Tuti dengan mengatakan bahwa dalam masalah cinta
Tuti sangat perhitungan dan tak pernah mau rugi sedikit pun serta Tuti selalu
memikirkan kongres ketimbang memikirkan perasaanya. Dan disinilah Tuti sadar
bahwa sampai kapanpun Ia tak bisa melawan kodratnya sebagai perempuan yang
memiliki perasaan untuk mencinta.
• Klimaks :
Suatu ketika
Maria terkena penyakit malaria. Penyakit tersebut membuat Maria begitu lemah
ditambah lagi penyakit TBC. Hingga pada akhirnya, Maria meninggal dunia.
• Anti Klimaks :
Sebelum Maria
meninggal dunia, Ia menitipkan pesan terakhirnya kepada Tuti dan Yusuf, yaitu
jika kelak Ia meninggal nanti, Ia berharap bahwa Tuti dan Yusuf dapat menikah.
• Penyelesaian :
Akhirnya Tuti dan Yusuf
menuruti permintaan terakhir Maria. Mereka berdua menikah. Dengan begitu, Tuti
tak perlu tersiksa lagi dengan perasaan kesepian yangs elama ini ia coba untuk
melawan.
d) Sudut Pandang : Orang ketiga
yang ditandai dengan menggunakan nama dalam
menyebutkan
tokoh-tokohnya.
Kutipan alenia 3 halaman 2:”maria tidak menyahut..”
Kutipan alenia 3 halaman 2:”maria tidak menyahut..”
Kutipan alenia 1
halaman 5:”Terkejut berbaliklah Tuti seraya tersenyum.....”
Kutipan alenia 3
halaman 11:”R.Wiriaatmaja menundukkan kepalanya...”
Kutipan alenia 4
halaman 12:”Yusuf ialah putra Demang Munaf.”
Kutipan alenia 1 halaman
20:”Tuti duduk membaca buku
e) Tokoh dan Perwatakan :
• Maria : adalah adik Tuti, yang sangat periang.
• Tuti : seorang wanita yang memiliki wawasan dan pemikiran modern. Ia mencoba menyamakan hak kaum wanita dengan kaum pria.
• Yusuf : seorang pemuda terpelajar yang modern. Ia adalah mahasiswa kedokteran. Sifatnya baik hati dan berbudi luhur.
• Supono : Seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.
• Wiriaatmaja : Ayah dari Maria dan Tuti, seorang yang memegang teguh agama, baik hati dan penyayang.
• Partadiharja : Adik Ipar Wiriaatmaja, seseorang yang baik hati, teguh pendirian dan peduli antar sesama.
• Saleh : Adik Partadiharja, seorang lulusan sarjana yang sangat peduli akan alam sehingga ia mengabdikan diri sebagai seorang petani.
• Rukamah : Sepupu Tuti dan Maria, seseorang yang baik hati dan suka bercanda.
• Ratna : Istri saleh, Seorang petani yang pandai dan baik hati.
• Juru Rawat : Seorang yang baik hati.
f) Gaya bahasa :
• Maria : adalah adik Tuti, yang sangat periang.
• Tuti : seorang wanita yang memiliki wawasan dan pemikiran modern. Ia mencoba menyamakan hak kaum wanita dengan kaum pria.
• Yusuf : seorang pemuda terpelajar yang modern. Ia adalah mahasiswa kedokteran. Sifatnya baik hati dan berbudi luhur.
• Supono : Seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.
• Wiriaatmaja : Ayah dari Maria dan Tuti, seorang yang memegang teguh agama, baik hati dan penyayang.
• Partadiharja : Adik Ipar Wiriaatmaja, seseorang yang baik hati, teguh pendirian dan peduli antar sesama.
• Saleh : Adik Partadiharja, seorang lulusan sarjana yang sangat peduli akan alam sehingga ia mengabdikan diri sebagai seorang petani.
• Rukamah : Sepupu Tuti dan Maria, seseorang yang baik hati dan suka bercanda.
• Ratna : Istri saleh, Seorang petani yang pandai dan baik hati.
• Juru Rawat : Seorang yang baik hati.
f) Gaya bahasa :
Didalam novel ini
banyak ditemukan majas personifikasi dan banyak menggunakan bahasa Melayu
sehingga terlihat agak rancu dan sulit dimengerti.(Romantisme)
Alinea 2 halaman 2 : “Gadis berdua itu adik
dan kakak, hal itu terang kelihatan pada air mukanya..”
Alinea 3 halaman 2 :”
Sekian perkataan itu melancar dari mulutnya sebagai air memancar dari c elah gunung.”
Alinea 5 halaman 2 :”
Air mata dan gelak berselisih di mukanya sebagai siang dan malam.”
g) Amanat / Pesan : Perempuan harus
memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat
besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat
lebih dihargai kedudukannya di masyarakat.
4.
Unsur
Ekstrinsik
Nilai Agama :
kita menjalankan perintah agama di mulai dari sekarang juga, tidak harus menunggu hari tua.
Nilai Sosial :
Novel ini menceritakan bahwa sesama manusia, apalagi sesama kaum pelajar harus saling membantu. Bantuan itu dapat berupa beasiswa bagi pelajar yang tidak mampu.
kita menjalankan perintah agama di mulai dari sekarang juga, tidak harus menunggu hari tua.
Nilai Sosial :
Novel ini menceritakan bahwa sesama manusia, apalagi sesama kaum pelajar harus saling membantu. Bantuan itu dapat berupa beasiswa bagi pelajar yang tidak mampu.
Bahasa Pengarang :
Bahasa pengarang adalah bahasa Melayu.Walaupun latar novel Layar Terkembang di Jakarta,bahasa yang digunakan ialah bahasa Melayu.
Bahasa pengarang adalah bahasa Melayu.Walaupun latar novel Layar Terkembang di Jakarta,bahasa yang digunakan ialah bahasa Melayu.
Unsur kebiasaan , adat ,
etika :
“...Tiba di muka pekuburan berhenti taxi itu dan keluarlah mereka.Yang perempuan membawa di tangan kanannya karangan bunga.....
Pada batu nisan pualam putih yang berukir tepinya, terlukis dengan air emas yang berkilat-kilat...Maria berpulang...Januari 193... usia 22 tahun.
“...Tiba di muka pekuburan berhenti taxi itu dan keluarlah mereka.Yang perempuan membawa di tangan kanannya karangan bunga.....
Pada batu nisan pualam putih yang berukir tepinya, terlukis dengan air emas yang berkilat-kilat...Maria berpulang...Januari 193... usia 22 tahun.
5.
Keunggulan
dan Kekurangan Isi Buku
Keunggulan :
a.
Dilihat dari segi isi
Novel ini isi atau
jalan ceritanya sangat menarik dan bisa membuat si pembaca terhanyut dalam isi
cerita tersebut.
b.
Dilihat dari segi bahasanya
Isi novel ini memang
banyak terdapat kata – kata yang sulit dipahami namun isi dari bahasanya itu
terkandung kata – kata mutiara
c.
Dilihat dari segi etika
Novel ini banyak
berisi nilai etika yang mendidik bagi para pemuda dan pemudi pada jaman
sekarang
d.
Dilihat dari segi moral
Dalam mencintai
seseorang kita harus sepenuh hati dan selalu setia meskipun maut telah
menjemput dan dalam isi cerita di novel ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup
melakukan sesuatu ataupun bertindak perlu dipertimbangkan namun dalam urusan
cinta janganlah pernah menganggap cinta itu perdagangan, baik dan buruk sampai
semiligram, yang tidak mau rugi walaupun hanya sedikit.
Kelemahan : Bahasa yang
digunakan dalam novel Layar Terkembang susah dimengerti karena banyak
menggunakan bahasa-bahasa lama.
6.
Kesimpulan
Dalam novel ini diceritakan,
cerita yang walaupun dari awal kurang menarik namun akhir – akhir ceritanya
bisa menghanyutkan hati. Kata – kata dalam novel ini banyak yang sulit
dimengerti dan dipahami.
Namun novel ini sangat baik
untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari – hari, baik itu dalam hubungan
cinta ataupun bersosialisasi. Dalam novel ini ada beberapa kalimat yang agak
janggal, sehingga sulit untuk dimengerti kalimat tersebut.
disusun oleh :
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar