Jumat, 14 Oktober 2016
Faktor-faktor yang mempengaruhi etika manajerial
Nama : ZAINURUL HARTIKA
NPM : 19213655
Kelas : 4EA25
Carilah jurnal / artikel mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi etika manajerial !
NPM : 19213655
Kelas : 4EA25
Carilah jurnal / artikel mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi etika manajerial !
PENGARUH LOCUS OF CONTROL, GAYA KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN ORGANISASI
TERHADAP KINERJA AUDITOR
Bunga Nur Julianingtyas
Jurusan
Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Abstrak
Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh Locus of control, gaya
kepemimpinan dan komitmen organisasi terhadap kinerja auditor. Populasi
Peneli-tian ini adalah auditor yang bekerja pada KAP di Kota Semarang. Sampel
penelitian ini yaitu 68 auditor yang terdapat pada 10 KAP. Pemilihan sampel
mengguna-kan metode convenience dan analisis data menggunakan analisis regresi
berganda dengan menggunakan program SPSS versi 16.00. Variabel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Locus of control, gaya kepemimpinan,
komitmen organisasi dan kinerja auditor. Dari hasil penelitian didapat bahwa
variabel locus of control, gaya kepemimpinan, dan komitmen organisasi
mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja Auditor. Sesuai dengan hasil
penelitian dan pembahasan maka disarankan kepada KAP untuk meningkatkan initiating
structure dan penelitian selanjutnya agar memperluas sampel yang digunakan.
Pendahuluan
Perkembangan
perekonomian suatu negara dibutuhkan informasi keuangan yang andal, didalamnya
dibutuhkan seorang yang dapat dipercaya untuk meyakinkan pihak luar yang akan
memiliki dasar untuk menyalurkan dana-dana mereka ke usaha-usaha yang
beroperasi secara efisien dan memiliki posisi keuangan yang sehat. Auditor
adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengaudit dan melaporkan kepada manajer.
Menurut Mulyadi (2002:5) Auditor adalah akuntan publik yang memberikan jasa
audit. Auditor ditugaskan untuk mengumpulkan dan memeriksa bukti audit untuk
memastikan kesesuaian antara informasi dengan kriteria yang ditetapkan dan
kemudian mengkomunikasikan terhadap user. Peran auditor adalah sebagai mediator
antara pemilik dengan manajer pada suatu perusahaan atau pemerintahan. Karena
pihak luar perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga untuk menilai keandalan
dari pertanggungjawaban laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Pihak
luar mengharapkan penilaian yang bebas dan tidak memihak terhadap informasi
laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.
Umam (2010:189)
menegaskan pengertian kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh individu
sesuai dengan peran atau tugasnya dalam periode tertentu, yang dihubungkan
dengan ukuran nilai atau standar tertentu dari organisasi tempat individu
tersebut bekerja. Kinerja auditor seperti yang dikemukakan oleh Kalbert dan forgarty
(1995) dalam Trisnaningsih (2007) adalah sebagai evaluasi terhadap pekerjaan
yang dilakukan oleh atasan, rekan kerja, diri sendiri dan bawahan langsung
Gibson (1987) dalam
Umam (2010), menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi
kinerja seseorang, yaitu (a) Faktor individu: kemampuan, ketrampilan, latar
belakang keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial, dan demografi seseorang,
(b) Faktor psikologi: persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi, dan
kepuasan kerja, (c) Faktor Organisasi: struktur organisasi, desain pekerjaan,
kepemimpinan, dan sistem penghargaan
Dalam mengukur
kinerja auditor, menurut Larkin (1990) dalam Trisnaningsih (2007), terdapat
empat dimensi personalitas, yaitu (a) kemampuan (ability) yaitu kecakapan
seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan, pengalaman kerja, bidang pekerjaan, dan faktor usia, (b) komitmen
professional, yaitu tingkat loyalitas individu pada profesinya, (c) motivasi,
yaitu keadaan dalam pribadi sesorang yang mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan, (d) kepuasan
kerja, yaitu tingkat kepuasan individu dengan posisinya dalam organisasi.
Di Singapura dua
Perusahaan Auditor sebelumnya yang mengaudit laporan keuangan dari perusahaan
real estate di Singapura, dinyatakan bersalah dan dihukum denda karena terbukti
gagal memberikan peringatan kepada manajemen perusahaan tentang adanya
kecurangan yang dilakukan oleh mantan manajer keuangan dimana sang manajer
tidak menyetorkan uang perusahaan ke bank yang ditunjuk. Kecurangan sang
manajer tersebut diketahui setelah perusahaan audit yang baru Patrick Lee
Public Accounting cooperation menerima laporan rekonsiliasi bank yang berbeda
dengan laporan akuntansi perusahaan (Musjab,
2007). Di Indonesia sendiri ditemukan kantor akuntan publik Justinus Aditya
Sidharta yang dibekukan oleh menteri keuangan dikarenakan adanya pelanggaran
berkaitan dengan konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River (hukumonline.com,
2007).
Berdasarkan kasus
diatas dapat terlihat bahwa profesi auditor memiliki tanggung jawab yang
tinggi. Kinerja yang baik sangat dibutuhkan oleh profesi ini karena profesi
auditor mempunyai peranan penting dalam penyediaan informasi keuangan yang
handal bagi pemerintah, investor, kreditor, debitur, pemegang saham, karyawan
serta masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Penyediaan
informasi keuangan yang memungkinkan pemilik dana menyalurkan dana mereka ke
usaha-usaha yang efisien akan menjadikan sehat perekonomian suatu negara.
Falikhatun
(2003;264) dalam Ayudiati (2010) menyebutkan bahwa peningkatan kinerja dalam
pekerjaannya dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tertentu, yaitu kondisi yang
berasal dari dalam individu yang disebut faktor individual dan kondisi yang
berasal dari luar individu yang disebut dengan faktor situasional. Faktor
individual meliputi jenis kelamin, kesehatan, pengalaman dan karakteristik
psikologis yang terdiri dari motivasi, kepribadian dan locus of control ,
sedangkan faktor situasional meliputi kepemimpinan, hubungan sosial dan budaya
organisasi. Komitmen organisasi menurut Meyer dan Allen (1991) dalam Umam
(2010:258) sebagai suatu konstruk psikologi yang merupakan karakteristik
hubungan anggota organisasi dengan organisasinya. Pernyataan ini
mewakili dari faktor psikologi yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang
seperti yang diungkapkan Gibson (1987) dalam umam (2010:190)
Terkait dengan faktor
individual, Locus Of Control menentukan tingkatan sampai dimana individu
meyakini bahwa perilaku mereka mempengaruhi apa yang terjadi pada mereka. Beberapa
orang merasa yakin bahwa mereka mengatur dirinya sendiri secara sepenuhnya,
bahwa mereka merupakan penentu dari nasib mereka sendiri dan memiliki tanggung
jawab pribadi untuk apa yang terjadi terhadap diri mereka. Ketika mereka
berkinerja dengan baik maka mereka yakin bahwa hal tersebut disebabkan oleh
usaha masing-masing individu. Mereka digolongkan sebagai internal.
Sementara yang lain memandang diri mereka secara tak berdaya diatur oleh nasib,
dikendalikan oleh kekuatan dari luar, kalaupun ada mereka sangat sedikit
berpengaruh. Ketika berkinerja baik mereka yakin bahwa itu merupakan
keberuntungan. Mereka digolongkan sebagai eksternal.
Penelitian yang
dilakukan Kartika (2007) menyebutkan bahwa locus of control eksternal
berpengaruh positif terhadap penerimaan perilaku disfungsional audit, jadi
dapat disimpulkan bahwa auditor yang memiliki kecenderungan locus of
control ekternal akan lebih memberikan toleransi disfungsional audit. Locus
of control Eksternal berhubungan negatife terhadap kinerja pegawai, jadi
dapat disimpulan bahwa auditor yang memiliki kecenderungan locus of control eksternal
memiliki kinerja yang lebih rendah. Penelitian Spector (1982) dalam Donelly et.al.
(2003) menunjukkan hubungan yang signifikan antara kinerja dan locus of
control internal. Seseorang yang ber-locus of control internal cenderung
berusaha lebih keras ketika ia meyakini bahwa usahanya tersebut akan
mendatangkan hasil. Selain itu penelitian yang dilakukan Ayudiati (2010) juga
menyebutkan bahwa Locus of Control berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja karyawan.
Faktor situasional
yang mempengaruhi peningkatan kinerja adalah, gaya kepemimpinan yang merupakan
cara pimpinan untuk mempengaruhi orang lain atau bawahannya sedemikian rupa
sehingga orang tersebut mau melakukan apa yang menjadi kehendaknya dalam
mencapai tujuan organisasi meskipun secara pribadi mungkin ada hal-hal yang
tidak disenangi. Bentuk pengaruh tersebut dapat secara formal seperti tingkat
manajerial pada suatu organisasi, karena posisi manajemen terdiri atas
tingkatan yang biasanya menggambarkan otoritas, seseorang dapat mengasumsikan
suatu peran kepemimpinan sebagai akibat dari posisi yang ia pegang pada
organisasi tersebut.
Hasil penelitian dari
Trisnaningsih (2007) menyebutkan adanya pengaruh positif antara gaya
kepemimpinan dan kinerja auditor. ini mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan
dalam KAP sebagai faktor dominan dalam menentukan dan pembentukan karakter
perusahaan, selanjutnya karakter perusahaan akan mempengaruhi output dari
kinerja auditor. Penelitian menurut Mariam (2009) juga membuktikan bahwa ada
pengaruh yang searah antara gaya kepemimpinan dengan kinerja karyawan. Ini
memberikan indikasi bahwa gaya kepemimpinan seorang pemimpin sangat berpengaruh
terhadap kinerja bawahannya, disamping itu untuk mendapatkan kinerja yang baik
dan dapat meningkat diperlukan juga pemberian pembelajaran terhadap bawahannya.
Terkait dengan faktor
psikologi yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang, komitmen organisasi
merupakan sikap untuk merefleksikan perasaan suka atau tidak suka terhadap
organisasi tempat dia bekerja. Ketika seseorang menyukai organisasi tempat
dimana dia bekerja maka dia akan memberikan kemampuan yang terbaik dan loyal untuk
organisasinya tersebut, dengan kata lain anggota yang memiliki komitmen
terhadap organisasinya maka dia akan lebih bertahan sebagai bagian dari
organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi.
Cahyasumirat (2006),
di dalam penelitiannya menyatakan tidak ada pengaruh positif antara komitmen
organisasi terhadap kinerja internal auditor. Sementara penelitian dari
Trisnaningsih (2007) dan Wibowo (2009) menyebutkan bahwa komitmen organisasi
berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.
Berdasarkan perbedaan
objek, lokasi penelitian dan riset gap yang ada maka peneliti ingin mengulang
penelitian. Penelitian akuntansi keperilakuan tentang locus of control,
gaya kepemimpinan dan komitmen organisasi terhadap kinerja pada perusahaan
bisnis sudah sering dilakukan, tetapi untuk penelitian pada perusahaan bisnis
non manufaktur, seperti KAP masih jarang dilakukan. Seperti penelitian
Ayudiati (2010) yang melakukan penelitian pada Bank Jateng, Mariam (2010)
dengan sampel penelitian karyawan pada PT Asuransi dan Cahyasumirat (2006) yang
meneliti internal auditor pada bank ABC. Perbedaan lokasi penelitian
sebelumnya oleh Trisnaningsih (2007) yang dilakukan pada KAP Jawa Timur.
Penelitian dari Kartika (2007) yang dilakukan pada BPKP perwakilan jawa tengah
dan DIY. Penelitian yang akan ditulis mencoba menggunakan responden yang
berbeda dengan penelitian sebelumnya, yaitu menggunakan responden auditor yang
bekerja pada KAP di kota semarang sebagai objek.
Peneliti ingin
membuktikan secara empiris apakah locus of control, gaya
kepemimpinan,dan komitemen organisasi berpengaruh terhadap kinerja auditor.
Selain itu juga akan membuktikan apakah hasil penelitian selanjutnya akan sama
atau berbeda apabila dilakukan dengan adanya perbedaan lokasi dan lingkungan
kerja pada KAP menyebabkan perbedaan pola pikir dan cara pandang ataupun cara
auditor bekerja dapat membawa pemahaman yang berbeda dalam menghasilkan
kinerja yang baik.
Berdasarkan uraian
diatas, maka penulis tertarik untuk mempelajari, membahas serta melakukan
penelitian dengan judul “PENGARUH LOCUS OF CONTROL, GAYA KEPEMIMPINAN,
DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA AUDITOR”.
Metode
Populasi dalam
penelitian ini adalah para auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik yang terdapat
di kota Semarang. Adapun jumlah auditor KAP di Kota Semarang sebanyak 184.
Dalam penelitian ini
sampel diambil dengan metode convenience sampling, yaitu dengan
mengambil sampel yang dilakukan dengan memilih sampel bebas sekehendak
perisetnya.
Pengumpulan data
dilakukan dengan metode survey. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner
yang dibagikan secara langsung pada auditor Kantor Akuntan Publik di kota
semarang. Skala interval dalam penelitian ini menggunakan Skala Likert 1 sampai
7 dengan frekuensi jawaban sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
Analisis diskriptif
digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai demografi responden dan
deskriptif. Gambaran tersebut meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir
dan lama bekerja responden pada KAP tersebut. Uji hipotesis menggunakan
analisis regresi berganda dengan alat analisis SPSS 16.
Hasil dan Pembahasan
Locus of control didefinisikan sebagai
persepsi seseorang tentang sumber nasibnya. Sebagian orang percaya bahwa
mereka adalah penentu dari takdir mereka sendiri. Sebagian lainnya melihat
diri mereka sebagai korban dari takdir mereka, percaya bahwa apa yang terjadi
pada diri mereka disebabkan oleh keberuntungan atau kesempatan (Robbins,
2002), dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua pilihan pertanyaan yang
didalamnya memuat indikator locus of control internal dan locus of
control eksternal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data rata-rata
untuk variabel locus of control (X1) sebesar 30,16 dengan standar
deviasi 18,301, sehingga dapat dikatakan locus of control dalam kondisi
agak baik
Gaya kepemimpinan
merupakan cara pimpinan untuk mempengaruhi orang lain/bawahannya sedemikian
rupa sehingga orang tersebut mau melakukan kehendak pimpinan untuk mencapai
tujuan organisasi meskipun secara pribadi hal tersebut mungkin tidak disenangi
( Luthans, 2002). Gaya Kepemimpinan dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua
indikator yaitu initiating Structure (Struktur inisiatif) dan Consideration
(Konsiderasi). Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa rata-rata untuk
variabel gaya kepemimpinan adalah sebesar 38,46 dengan standar deviasi 3,814 ,
sehingga apabila dikonsultasikan dengan tabel kategori, hasil tersebut termasuk
dalam kategori agak baik .
Komitmen Organisasi
didefinisikan sebagai kekuatan yang bersifat relative dari individu
dalam mengidentifikasi keterlibatan dirinya ke dalam organisasi.
(Porter,streers, & Mowday, 1982 dalam Kuang chi et, al , 2007). Komitmen
organisasi dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua indikator yaitu Affective
dan continuance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata untuk
variabel komitmen organisasi adalah sebesar 62,78 dengan standar deviasi 7,887
, sehingga apabila dikonsultasikan dengan tabel kategori, hasil tersebut
termasuk dalam kategori baik
Kinerja auditor
merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang telah diseleseikan
oleh auditor dalam kurun waktu tertentu (Trisnaningsih, 2007). Kinerja auditor
dalam penelitian ini diukur berdasarkan empat indikator yaitu kemampuan,
komitmen profesi, motivasi, kepuasan kerja. Hasil penelitian diatas menunjukkan
bahwa rata-rata untuk variabel kinerja auditor adalah sebesar 66.74 dengan
standar deviasi 8.895 , sehingga apabila dikonsultasikan dengan tabel kategori,
hasil tersebut termasuk dalam kategori baik . Jadi dapat disimpulkan bahwa
secara umum, kinerja auditor adalah baik
Berdasarkan hasil
pengujian dengan metode regresi linier berganda untuk menguji pengaruh
variabel-variabel independen (locus of control, gaya kepemimpinan, dan
komitmen organisasi) terhadap variabel dependen (kinerja auditor) maka dapat
disusun sebuah persamaan sebagai berikut :
Y= 0,161+ 0,100LOC +
0,595GK + 0,648KO+e
Hipotesis satu
menyatakan pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel locus of
control, gaya kepemimpinan, dan komitemen organisasi terhadap kinerja
auditor diterima secara statistik sehingga dapat dipahami bahwa auditor yang
memiliki locus of control internal tinggi dan eksternal rendah,
gaya kepemimpinan baik, dan komitmen organisasi yang tinggi akan meningkatkan
kinerja auditor.
Hal ini menunjukkan
bahwa auditor dengan locus of control internal yang tinggi akan memiliki
kinerja yang lebih baik, dibanding dengan auditor yang memiliki locus of
control ekternal tinggi. Pengaruh locus of control dengan kinerja
adalah seseorang dengan locus of control internal akan berusaha dan
percaya dengan kemampuannya sendiri untuk menghasilkan kinerja yang baik.
Sebaliknya seseorang dengan locus of control eksternal yang tinggi maka
dia akan mudah pasrah dan menyerah dalam menghadapi suatu masalah, sehingga
dalam pekerjaan menghasilkan kinerja yang tidak maksimal. Gaya kepemimpinan
seorang pemimpin dalam mengelola pegawainya akan berpengaruh terhadap
peningkatan atau penurunan kinerja pegawai tersebut. Pimpinan yang memiliki
cara memimpin yang baik akan disukai oleh bawahannya dan mereka akan senang
dalam bekerja sehingga dalam bekerja kinerja yang dihasilkan akan baik dan meningkat.
Komitmen organisasi yang dimiliki oleh auditor berpengaruh terhadap kinerja
yang dihasilkan, hal ini dapat terjadi karena seorang auditor yang memiliki
komitmen yang tinggi terhadap organisasi dimana dia bekerja maka akan timbul
rasa memiliki terhadap organisasinya tersebut, sehingga kinerja yang
dihasilkan dapat meningkat.
Maka teori atribusi
diajukan untuk mengembangkan penjelasan bahwa perbedaan penilaian kita
terhadap individu tergantung pada arti atribusi yang kita berikan pada perilaku
tertentu. Pada dasarnya, teori tersebut berusaha untuk menentukan apakah
penilaian ini disebabkan oleh faktor internal atau eksternal (Robbins, 2002).
Dari faktor internal, locus of control dan komitmen organisasi dan
faktor eksternal adalah gaya kepemimpinan.
Berdasarkan hasil
analisis data diketahui bahwa variabel locus of control, gaya kepemimpinan
dan komitemen organisasi signifikan mempengaruhi kinerja auditor. variabel locus
of control, gaya kepemimpinan dan komitmen organisasi berpengaruh secara
positif signifikan . Hal ini berarti dapat dikatakan bahwa secara simultan variabel
dari penelitian diperoleh nilai determinasi variabel kinerja auditor sebesar
40,5%.
Hasil penelitian
menyatakan bahwa locus of control berpengaruh terhadap kinerja auditor
dengan nilai pengaruh positif. Ketika locus of control yang semakin baik
maka mengakibatkan kinerja yang dihasilkan juga semakin baik. Locus of
control didefinisikan sebagai persepsi seseorang tentang sumber nasibnya.
Sebagian orang percaya bahwa mereka adalah penentu dari takdir mereka sendiri.
Sebagian lainnya melihat diri mereka sebagai korban dari takdir mereka, percaya
bahwa apa yang terjadi pada diri mereka disebabkan oleh keberuntungan atau
kesempatan (Robbins, 2002). Teori yang dikembangkan Rotter (1966) dalam
Donelly et. al. (2003) menyarankan individu untuk mengembangkan sebuah
ekspektasi umum berhubungan dengan apakah kesuksesan individu ditentukan oleh
faktor lain. Konsep ini menggolongkan individu apakah termasuk dalam locus
of control internal atau locus of control eksternal. Dalam
penelitian ini locus of control diukur berdasarkan dua pilihan
pertanyaan yang didalamnya memuat indikator locus of control internal dan
locus of control eksternal. Locus of control internal dalam penelitian
ini diukur dengan sepuluh butir pertanyaan, yaitu dengan 3 indikator yaitu
usaha, kemampuan dan minat, terdapat responden sebanyak 51 orang yang memilih locus
of control internal. Locus of control eksternal dalam penelitian ini diukur
dengan sepuluh butir pertanyaan, yaitu dengan 4 indikator yaitu sosial
ekonomi, keberuntungan, pengaruh, dan nasib. Terdapat responden sebanyak 17
orang yang memilih locus of control eksternal. Pada locus of control
internal indikator Usaha, pertanyaan nomor satu menjadi pilihan responden
terbanyak untuk option tertinggi dengan jumlah 19 responden yang memilih nilai
sangat setuju (1), sementara untuk pilihan responden terbanyak untuk option terendah
terdapat pada indikator kemampuan dan minat, pertanyaan nomor enam dan tujuh
yang memiliki 13 responden yang memilih agak setuju (3). Pada locus of
control eksternal indikator pengaruh pertanyaan nomor lima menjadi pilihan
responden terbanyak untuk option tertinggi dengan jumlah 8 responden yang
memilih nilai sangat setuju (7), sementara untuk pilihan responden terbanyak
untuk option terendah terdapat pada indikator sosial ekonomi, pengaruh dan
nasib pertanyaan nomor dua, enam, sembilan, sepuluh memiliki masing-masing 7
responden yang memilih agak setuju (5)
Sebagian besar Auditor
dalam penelitian ini termasuk dalam kelompok locus of control internal. Individu
locus of control internal akan berusaha dan percaya dengan kemampuannya
sendiri untuk menghasilkan kinerja yang baik . Sementara individu dengan locus
of control eksternal yang tinggi maka dia akan mudah menyerah ketika menemui
kesulitan dalam pekerjaan sehingga menghasilkan kinerja yang tidak maksimal. Senada
dengan penelitian yang dilakukan Santoso (2005), Abdulloh (2006) dan penelitian
Ayudiati (2010) juga menyebutkan bahwa locus of control berpengaruh
positif terhadap kinerja
Hasil penelitian menyatakan bahwa
gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja auditor dengan nilai pengaruh
positif. Hal ini berarti semakin baik gaya kepemimpinan seorang pemimpin maka akan
meningkatkan kinerja auditor. Gaya kepemimpinan merupakan cara pimpinan untuk
mempengaruhi orang lain/bawahannya sedemikian rupa sehingga orang tersebut mau
melakukan kehendak pimpinan untuk mencapai tujuan organisasi meskipun secara
pribadi hal tersebut mungkin tidak disenangi ( Luthans, 2002). Gaya
Kepemimpinan dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua indikator yaitu initiating
Structure (Struktur inisiatif) dan Consideration (Konsiderasi)
dengan delapan butir pertanyaan. Pada indikator Initiating structure pada
pertanyaan nomor 2 menjadi pilihan responden terbanyak pada option terendah
memiliki 21 responden yang memilih agak tidak setuju (3) sementara indikator Consideration
pertanyaan nomor delapan dengan jumlah 7 responden yang memilih nilai
sangat setuju (7) menjadi pilihan responden terbanyak untuk option tertinggi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa
responden melihat suatu gaya kepemimpinan dari pimpinan yang baik akan mampu
mendukung dalam dia melaksanakan pekerjaannya. Sehingga dapat dikatakan adanya
hubungan antar gaya kepemimpinan dengan kinerja auditor, bahwa seorang auditor
yang dipimpin oleh seorang pimpinan yang memiliki cara memimpin yang baik dan
disukai oleh bawahannya maka dia akan merasa senang dalam bekerja sehingga kinerjanya
akan meningkat. Penelitian ini menunjukkan adanya kesamaan dengan teori yang
diungkapkan Kreitner dan Knicki (2005) dalam Trisnaningsih (2007) mengatakan
bahwa gaya kepemimpinan seorang manajer akan berpengaruh langsung terhadap
efektivitas kelompok kerja. Kelompok kerja dalam perusahaan merupakan
pengelompokan kerja dalam bentuk unit kerja dan masing masing unit kerja
dipimpin oleh seorang manajer. Gaya manajer dalam mengelola sumber daya manusia
dalam suatu unit kerja akan berpengaruh pada peningkatan kinerja unit, yang
pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Trisnaningsih (2007),
Wibowo (2009) dan Mariam (2010) yang menyatakan gaya kepemimpinan berpengaruh
terhadap kinerja.
Hasil penelitian menyatakan bahwa
komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja auditor dengan nilai pengaruh
positif. Hal ini berarti semakin komitmen seorang auditor terhadap tempat dia
bekerja maka akan semakin mempengaruhi kinerjanya. Komitmen Organisasi
didefinisikan sebagai kekuatan yang bersifat relative dari individu dalam
mengidentifikasi keterlibatan dirinya ke dalam organisasi. (Porter,streers,
& Mowday, 1982 dalam Kuang chi et, al , 2007). Komitmen organisasi dalam
penelitian ini diukur berdasarkan dua indikator yaitu Affective dan
continuance dalam 11 butir pertanyaan. Pada indikator Affective pertanyaan
ketiga menjadi pilihan responden terbanyak dengan option tertinggi dengan
jumlah 24 responden yang memilih nilai sangat setuju (7), dan indikator Continuance
pertanyaan nomor sepuluh juga menjadi pilihan responden terbanyak untuk
option tertinggi dengan jumlah 24 responden yang memilih nilai sangat setuju
(7), sementara untuk pilihan responden terbanyak untuk option terendah dalam
indikator ini pertanyaan nomor delapan dan sebelas dalam indikator continuance
yang masing masing memiliki satu responden yang memilih agak tidak setuju
(3)
Teori yang dikemukan
Umam (2010:259) anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya maka dia
akan lebih bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan anggota yang
tidak memiliki komitmen terhadap organisasi. Sehingga dapat disimpulkan adanya
hubungan antara komitmen organisasi dengan kinerja auditor, bahwa seorang
auditor yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi dimana dia
bekerja maka akan timbul rasa memiliki dan akan lebih bertahan sebagai bagian
dari organisasi, sehingga dia akan merasa senang dalam bekerja dan akan
memberikan kemampuan terbaik untuk meningkatkan kinerja. Hasil penelitian
sesuai dengan penelitian yang dilakukan Trisnaningsih (2007) dan Wibowo (2009),
namun berlawanan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyasumirat (2006) yang
menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara komitmen organisasi dan kinerja
auditor
Simpulan
Berdasarkan analisis
data yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Berdasarkan hasil
penelitian diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,405, Koefisien ini
mempunyai arti bahwa ketiga variabel bebas tersebut secara independen tersebut
secara simultan (bersama-sama) memberikan kontribusi terhadap variabel terikat
sebesar 40,5 %, sedangkan sisanya sebesar sisanya dipengaruhi oleh faktor
dari luar model penelitian.
Berdasarkan hasil
penelitian, diperoleh koefisien variabel Locus of Control memiliki nilai
sebesar 0,100 dengan taraf signifikansi 0,035 yang artinya bahwa locus of
control berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor
Berdasarkan hasil penelitian,
diperoleh koefisien variabel gaya kepemimpinan memiliki nilai 0,595 dengan
tingkat signifikansi sebesar 0,009 yang artinya gaya kepemimpinan berpengaruh
signifikan terhadap kinerja auditor
Berdasarkan hasil
penelitian, diperoleh koefisien variabel komitmen organisasi memiliki nilai
0,648 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang artinya komitmen
organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor.
Daftar Pustaka
Abdulloh. 2006. Pengaruh
Budaya Organisasi,Locus of Control, dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada Kantor Pelayanan Pajak Semarang Barat. Tesis.Undip
Arikunto, Suhasimi.
2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta. PT Rineka
Cipta.
Ayudiati, Soraya Eka.
2010.Analisis Pengaruh Locus of Control Terhadap Kinerja dengan Etika Kerja
Islam sebagai variable moderating (studi pada karyawan tetap Bank Jateng
Semarang).Skripsi.Undip.
Cahyasumirat,
Gunawan. 2006. Pengaruh Profesionalisme dan Komitmen Organisasi terhadap
Kinerja Internal Auditor dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening.
Tesis. UNDIP
Donnelly, et.al.2000.
Attitudes Towards Dysfuctional Audit Behavior: The effect of locus of
control, organization commitment, and position. The journal of Applied
bussines research vol.19.no.1
Engko, C. 2007. Pengaruh
Kompleksitas Tugas dan Locus Of Control Terhadap Hubungan Antara Gaya
Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja Auditor. JAAI Volume 11 No.2 Desember 2007
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi
Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang.Badan Penerbit.UNDIP.
Harini, Dwi. 2009. Analisis
Penerimaan Auditor atas Dysfinctional Audit Behavior : Sebuah Pendekatan
karakteristik Persunal Auditor.Skripsi.UNNES.
Harvita, Yustiana
Nila. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penghentian Prematur
atas Prosedur Audit. Skripsi. Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri
Semarang.
Ikatan Akuntan
Indonesia, 2001. Standar Profesional Akuntan Publik, Salemba Empat,
Jakarta.
Kartika dan
Wijayanti. 2007. Locus Of control and Accepting Disfunctional Behavior on
Public Auditors of DFAB.Akuntabilitas,maret 2007,hal 158-164.
Kuang Chi, et. Al.
2007. Investigating the relationship among leadership styles, emotional
intelligence ang organization commitmen on job performance: A study of sales
people in Thailand.Journal of human Resource and Adult learning vol
3,num.2 december 2007.
Luthans, Fred. 2005. Organizational
Behaviour, Sevent Edition. McGraq-Hi International, Singapore.
J.H. Jackson &
R.L Mathis, 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Salemba Empat.
Mariam,R.
2009.Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan
Melalui Kepuasan Kerja Karyawan Sebagai Variabel Intervening.Tesis.Undip
Mulyadi.2002.Auditing
edisi ke 6. Jakarta:Salemba empat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar